Gangguan kepribadian adalah kelompok atau kelas karakteristik atau ciri-ciri kepribadian yang sering dikarakteristikan sebagai penyimpangan norma budaya atau sosial.

Setiap orang memiliki kepribadian yang ditentukan oleh bagaimana orang tersebut berpikir, merasa, dan berperilaku. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa unsur, termasuk pengalaman, interaksi dengan orang lain, dan persepsi orang itu sendiri terhadap dirinya dan dunia. Karena setiap orang tidak sama, tidak ada kepribadian yang juga sama.

Namun, bagi orang kebanyakan, kepribadian dapat berkembang dan bahkan berubah tergantung pada keadaan tertentu dan seiring dengan berjalannya waktu. Inilah bagaimana orang tersebut menghadapi stres dan kepribadian orang lain.

Penyebab Kondisi Gangguan Kepribadian

Tidak jelas bagaimana gangguan kepribadian muncul pada sebagian orang, namun ada banyak teori berkaitan dengan hali ini.

Pertama, penderitanya mungkin telah mengalami suatu peristiwa dalam hidupnya yang mengubah hidupnya, menimbulkan trauma, atau sangat berpengaruh. Peristiwa ini biasanya dialami pada saat penderitanya masih muda karena kepribadian mulai berkembang pada usia dini. Misalnya, seseorang yang telah ditinggalkan oleh orang tuanya mungkin akhirnya memiliki gangguan kepribadian terlalu bergantung atau kebutuhan ekstrim untuk mendapatkan cinta dan perhatian. Penderitanya takut merasa ditinggalkan dan dengan demikian akan sering melakukan apapun untuk menjaga orang di sekitarnya, termasuk terlalu patuh pada pasangannya.

Teori lainnya adalah genetika mungkin memiliki peran besar. Misalnya, banyak penelitian menghubungkan gejala skizofrenia dengan genetika. Orang yang memiliki kerabat tingkat pertama yang didiagnosis dengan gangguan ini memiliki 55% risiko lebih besar daripada masyarakat pada umumnya. Sementara itu, setidaknya setengah kasus depresi klinik berkaitan dengan faktor keturunan.

Gen dapat mempengaruhi cara otak bekerja. Gen mungkin mencegah pengiriman informasi yang tepat, yang kemudian menghasilkan ide, pikiran, atau perilaku seseorang yang berbelit-belit.

Namun, memiliki kerabat dengan gangguan menta atau kepribadian tidak berarti orang tersebut juga akan memiliki gangguan tersebut. Namun kemungkinannya akan tetap tinggi.

Gejala Utama Gangguan Kepribadian

Gejala gangguan kepribadian dapat bervariasi tergantung pada kelompoknya atau masalah mental tertentu. Beberapa gejala umumnya termasuk:

  1. Merasa takut dan cemas secara berlebih
  2. Obsesi lebih pada objek, peristiwa, atau orang tertentu
  3. Paksaan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang atau bahkan melawan keinginan sendiri
  4. Merasa tidak berharga dan rasa bersalah
  5. Tingkat stres yang tinggi
  6. Ketidakmampuan mengatasi stres
  7. Kesulitan dalam memahami kepribadian orang lain
  8. Merasa tidak layak dalam pergaulan sosial (menyendiri atau menarik diri)
  9. Berisiko menyakiti diri sendiri termasuk melukai tubuh dan bunuh diri
  10. Mudah marah yang tidak terkontrol atau tidak masuk akal
  11. Terlalu tergantung pada orang lain
  12. Kesulitan dalam menerima kritik atau saran
  13. Perilaku yang eksentrik
  14. Paranoid

Beberapa orang menunjukan gejala gangguan kepribadian yang sangat ringan, sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan diagnosis. Di sisi lain, sebagian orang lainnya memiliki tanda ekstrim hingga mereka terkadang dapat menjadi ancaman bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Stres umumnya dapat memperburuk gejala gangguan kepribadian. Umumnya pasien juga memiliki gangguan mental yang kompleks. Misalnya, orang dengan gangguan kepribadian avoidant atau suka menghindar dapat didiagnosis dengan depresi.
Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Sulit untuk “menyembuhkan” gangguan kepribadian karena kepribadian sudah menjadi bagian dalam diri seseorang. Namun, gejalanya dapat dikendalikan atau ditangani untuk memungkinkan penderitanya membangun hubungan yang lebih baik dengan dirinya sendiri dan orang lain.

Seseorang yang percaya dirinya memiliki gangguan kepribadian dapat mengunjungi psikiater dan/atau psikolog, yang telah menerima pelatihan, pendidikan, dan pengalaman memadai dalam menangani perilaku, pikiran, dan emosi manusia.

Bergantung pada hasil konsultasi, dokter mungkin menganjurkan psikoterapi yang meliputi terapi perilaku kognitif (CBT). Pada CBT, penderita dengan gangguan kepribadian diyakini memiliki persepsi negatif yang menyimpang yang mempengaruhi tindakan, perasaan, dan kepribadiannya secara keseluruhan. Misalnya, orang yang telah gagal dalam suatu ujian mungkin merasa bodoh, dan dengan demikian, setiap kesalahan yang ia buat di tempat kerja atau dirumah, ia hubungkan dengan “kebodohannya”. Oleh karena itu, seleuruh peristiwa lainnya hanyalah menjadi validasi dari pikiran negatifnya. Dokter akan menggunakan teknik yang berbeda termasuk menggunakan jurnal untuk mencari akar penyebab dan mengajarkan penderitanya untuk mengatasi cara berpikirnya untuk mengoreksi dan memperbaiki persepsi negatif.

Pilihan lainnya termasuk terapi kelompok, yang lebih mendalam, dan terapi reflektif, yang berkaitan dengan pengalaman negatif dari penderitanya yang mungkin memiliki pengaruh besar dalam perkembangan gangguan kepribadiannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here